OpenAI kembali menjadi sorotan dunia teknologi setelah mengumumkan bahwa sistem kecerdasan buatannya berhasil menemukan solusi untuk Navier-Stokes, salah satu persoalan matematika paling terkenal dan sulit di dunia.
Navier-Stokes merupakan bagian dari tujuh Millennium Prize Problems yang diperkenalkan Clay Mathematics Institute pada tahun 2000. Setiap persoalan memiliki hadiah sebesar US$1 juta bagi solusi yang memenuhi persyaratan dan memperoleh pengakuan dari komunitas matematika. Hingga saat ini, hanya Konjektur Poincaré yang telah dinyatakan terselesaikan.
OpenAI mengatakan bahwa sistem internalnya menggunakan sekitar 10.000 agen AI dan membutuhkan sekitar 88 jam untuk menghasilkan solusi terhadap persoalan Navier-Stokes. Biaya komputasi yang digunakan disebut mencapai puluhan juta dolar.
Namun, keberhasilan tersebut tidak sepenuhnya disambut sebagai kemenangan teknologi.
Persaingan dengan Peneliti Akademik
Salah satu tokoh yang berada di tengah kontroversi adalah Tristan Buckmaster, profesor matematika di New York University.
Buckmaster bersama Levent Alpöge, seorang peneliti yang bekerja di Anthropic, sebelumnya sedang mengerjakan penelitian yang berkaitan dengan Navier-Stokes. Ketika mengetahui OpenAI juga mengejar persoalan tersebut, Buckmaster menghubungi pihak OpenAI untuk mempertanyakan sejumlah hal.
Menurut laporan The Verge, Buckmaster mengatakan bahwa OpenAI menawarkan sumber daya komputasi yang sangat besar untuk membantu menyelesaikan penelitiannya. Namun, terdapat persoalan mengenai keterlibatan Alpöge yang bekerja di perusahaan pesaing OpenAI, Anthropic.
Buckmaster kemudian memilih untuk mempublikasikan pengalamannya dan mempertanyakan apakah interaksinya dengan Codex, alat pemrograman AI milik OpenAI, berpotensi memiliki hubungan dengan perkembangan sistem OpenAI.
OpenAI membantah telah mengakses data pengguna tertentu atau menggunakan sesi Codex milik Buckmaster untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Perusahaan tersebut juga menyatakan bahwa para peneliti dan agen AI mereka tidak melihat pekerjaan para peneliti sebelum hasil tersebut dipublikasikan.
Meski demikian, OpenAI mengakui bahwa kemungkinan pengaruh tidak langsung dari data yang telah dianonimkan tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.
Ketika AI Mulai Bersaing dengan Ilmuwan
Kontroversi ini memperlihatkan persoalan yang lebih besar.
Dalam penelitian matematika, kompetisi bukan sesuatu yang baru. Para peneliti tentu ingin menjadi pihak pertama yang menemukan sebuah terobosan. Namun, penelitian akademik juga sangat bergantung pada kepercayaan, kolaborasi, pertukaran ide, dan pengakuan terhadap kontribusi intelektual.
Masalahnya, perusahaan AI memiliki sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan kelompok penelitian akademik.
OpenAI dapat mengerahkan ribuan agen AI sekaligus, menyediakan komputasi dalam jumlah sangat besar, dan menguji berbagai pendekatan secara paralel. Skala seperti ini berpotensi mengubah cara kompetisi ilmiah berlangsung.
Sejumlah matematikawan khawatir bahwa peneliti akan semakin enggan membagikan hasil penelitian yang masih dalam proses karena takut ide mereka akan diambil, dikembangkan oleh AI, lalu diumumkan lebih dulu oleh perusahaan teknologi.
Bukan Sekadar Persoalan Siapa yang Menang
Persoalan yang muncul kemudian bukan hanya apakah OpenAI benar-benar mampu menyelesaikan Navier-Stokes.
Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah:
Bagaimana seharusnya AI berperan dalam penelitian ilmiah?
Jika AI dapat menggunakan ribuan agen untuk mengerjakan persoalan yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi manusia, maka dunia akademik harus memikirkan kembali aturan mengenai kontribusi, kepengarangan, data penelitian, dan prioritas penemuan.
Hal ini menjadi semakin kompleks karena perusahaan AI bukan hanya menyediakan alat penelitian, tetapi juga menjadi pesaing langsung para peneliti.
Seorang matematikawan yang menggunakan AI untuk membantu penelitiannya pada dasarnya bisa berada dalam posisi unik: alat yang digunakannya berasal dari perusahaan yang pada saat bersamaan memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian serupa secara mandiri.
Apakah Navier-Stokes Sudah Benar-Benar Terpecahkan?
Menariknya, klaim OpenAI belum otomatis berarti hadiah Millennium Prize langsung menjadi milik perusahaan.
Clay Mathematics Institute memiliki proses evaluasi yang panjang. Sebuah solusi harus dipublikasikan dan memperoleh penerimaan luas dari komunitas matematika selama periode tertentu sebelum sebuah persoalan dapat secara resmi dinyatakan terselesaikan.
Karena itu, meskipun OpenAI telah mengumumkan pencapaiannya, status matematis final dari solusi tersebut masih membutuhkan proses verifikasi independen.
Era Baru Kompetisi AI
Kasus ini menunjukkan bahwa perlombaan AI telah bergerak jauh melampaui chatbot, generator gambar, atau coding assistant.
Kini perusahaan AI mulai berlomba dalam penemuan ilmiah dan matematika tingkat tinggi.
Bagi OpenAI, kemampuan menyelesaikan masalah seperti Navier-Stokes merupakan demonstrasi besar mengenai kemampuan reasoning AI. Namun bagi dunia akademik, fenomena tersebut juga menjadi peringatan bahwa aturan dan budaya penelitian mungkin harus beradaptasi dengan hadirnya AI yang memiliki kemampuan komputasi luar biasa.
Jika kompetisi semacam ini terus berkembang, pertanyaan terbesarnya mungkin bukan lagi "Bisakah AI memecahkan masalah matematika?"
Melainkan:
"Bagaimana manusia memastikan bahwa kemajuan AI tetap berjalan bersama dengan etika, transparansi, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan?"